Kulari ke hutan

Kemudian teriakku

Kulari ke pantai

Kemudian menyanyiku

Sepi… sepi dan sendiri aku benci

Aku mau ingar… aku mau di pasar…

Bosan aku dengan penat

Dan enyah saja kau pekat

Seperti berjelaga jika kusendiri…

Pecahkan saja gelasnya biar ramai

Biar mengaduh sampai gaduh

Aih… ada malaikat menyulam

Jaring laba-laba belang di tembok keraton putih,

Kenapa tak goyangkan saja loncengnya

biar terdera,

Atau aku harus lari ke pantai

belok ke hutan.

– as written on the paper by Rangga, 2002, Ada Apa Dengan Cinta –

Kulari Ke Hutan

 

Puisi inilah yang sembilan tahun lalu begitu mengilhamiku untuk memulai menulis cerita tentang suka duka dalam hidup. Puisi ini menggambarkan diriku yang dulu mencari satu kebebasan, mencari identitas diri. Sembilan tahun sudah berlalu, puisi ini selalu dan akan selalu menjadi satu nostalgia terindah dalam awal hidupku sebagai seorang siswa sekolah menengah umum yang ingin berpacu menunjukkan kebolehan diri kepada dunia. Dan, semoga semua itu tidak menjadi sia-sia suatu saat nanti.

 

I believe.

With Love,

eldios.©

Advertisements