Empat tahun lalu aku kembali ke sekolahku, SLTP Santa Maria Juanda. Sekolah ini adalah sekolah yang memberiku begitu banyak kenangan dari yang terbaik sampai yang terburuk semasa aku masih duduk di bangku sekolah dulu. Aku hanya memiliki 2 tahun kesempatan menuntut ilmu di sana, tapi 2 tahun itu menjadi sangat bermakna bagiku. Di sekolah ini lah aku memiliki teman terbanyak. Tiga dari teman terbaikku saat ini berasal dari sekolah ini. Kisah-kisahku di sekolah ini masih yang paling banyak melekat diingatanku. Namun, itu bukan berarti aku melupakan sekolahku yang lain yang lebih lama aku menuntut ilmu.

Bila ada satu sekolah yang bisa aku sebut sangat aku inginkan untuk tempatku bersekolah dulu adalah sekolah SLTP Santa Maria Juanda ini. Mengapa? Entahlah. Aku merasa menjadi seorang murid di sekolah ini adalah satu kebanggaan dulu. Sayang sekali dulu setamat aku dari bangku sekolah dasar, ayahku tak bisa menunggu pengumuman dari sekolah ini karena khawatir atas rendahnya NEM aku, sehingga aku harus dengan berat hati menerima pinangan sekolah lain. Tetapi, memang seperti yang disebut peribahasa bahwa bila jodoh takkan kemana. Setahun aku bersekolah di SMP yang lain itu, aku dihina, aku direndahkan, aku dicaci, aku didiskriminasi karena agamaku Buddha. Aku dipaksa ke gereja, aku diancam dan nilaiku disunat karena aku berpegang pada keyakinanku. Pada akhir tahun ajaran, aku memaksa ayahku untuk  memindahkan aku ke sekolah lain, sekolah yang bisa menerima aku apa adanya. Setelah negosiasi dengan kepala sekolah Santa Maria, aku akhirnya diterima di kelas 2. Dan dimulailah perjalananku di kelas 2D dan berakhir di 3C. Aku lulus dari Santa Maria pada tahun 2001.

Dikarenakan singkatnya masa hidupku di Santa Maria, banyak guru-guru yang tidak ingat aku karena jarang melihat aku. Mereka hanya tahu aku seorang murid baru yang hitam, kurus, dan pendiam. Dan, kini, mereka akan mengingatku karena hadiah sebagai ucapan terima kasih dari ayah. Ayahku memberikan setiap guru yang pernah mengajar aku sebuah rice cooker merk Dongnama. Sumpah,itu bukan sogokkan, karena hari itu aku sudah lulus SMP.

Hari itu adalah hari kelulusan angkatan 2001. Aku berangkat dengan mobil truk yang membawa lebih dari 20 buah rice cooker. Sungguh aku malu karena menjadi tontonan orang-orang. Tapi aku masih ingat pesan ayahku malam sebelum hari itu.

Kita harus ingat jasa-jasa seorang guru. Jasa mereka bukan sebatas hari ini kamu lulus sekolah. Dan kenang-kenangan ini, bukan satu bentuk kesombongan. Ini hanya ucapan terima kasih karena mereka telah menanamkan benih-benih untuk kamu.

Dan oleh sebab itu, sampai hari ini banyak guru yang ingat aku dengan nama Dongnama.

Pada tahun 2001, aku tinggalkan sekolah itu menuntut ilmu di sekolah lain dan sampai aku lulus SMU aku tidak pernah kembali. Aku baru kembali menjajakkan kaki lagi di tahun 2007. 8 Agustus 2007 tepatnya, aku datang kembali ke sana. Aku kembali bersama seorang teman smp yang aku jumpai di tempat di mana aku kuliah. Saat itu, aku baru menyelesaikan program dasar kedokteran di universitas di Irlandia. Aku baru saja mau memulai perjalanan baru. Selain itu, aku yang dirundung masalah cinta dan keluarga saat itu, aku merasa lebih baik aku mencari suasana baru. Aku datang kembali bertemu Ibu Rita, Pak Agus, Ibu Rosa, Pak Vendy, Pak Hudi, Ibu Yuniar, Ibu Sri, dan banyak lagi. Tidak ada tujuan pasti untuk apa aku kembali ke sana. Aku hanya jalan-jalan dengan temanku sebelum aku menlanjutkan studi di Irlandia.

Setelah itu, aku berangkat untuk menuntut ilmu kedokteran dengan harapan bisa menjadi dokter tentunya. Dan dari tahun ke tahun, aku tidak pernah berkesempatan untuk kembali lagi ke Santa Maria. Sampai pada satu hari, aku bertemu Ibu Awiek di facebook tahun lalu. Aku kemudian berjanji untuk mengunjungi lagi Santa Maria. Sayang sekali, tahun lalu, begitu sibuknya dan padatnya jadwalku di Jakarta, tidak memungkinkan aku mengunjungi Santa Maria, padahal aku sudah menghubungi Ibu Yuniar.

Setelah 4 tahun lamanya, aku studi di Irlandia, aku masuk ke tingkat akhir kedokteran. Jadi, aku kembali berniat untuk kembali ke rumah ilmuku dulu, Santa Maria, tahun ini sebelum aku tamat menjadi seorang dokter (AMIN!). Beruntung di antara jadwalku yang padat, aku bisa menyisipkan sedikit waktu untuk bertemu dengan para guru. Aku senang sekali melihat perubahan-perubahan yang ada, mengingat kembali kenangan-kenangan saat aku berkelahi, saat aku menyalin pekerjaan rumah, saat aku dihukum di lapangan, saat aku berlarian naik turun tangga, saat aku menyudutkan diri di pojok pintu kelas untuk melirik seorang teman wanita cantik di seberang lapangan. Nostalgia yang indah terjalin ketika aku menyadari betapa sudah berubahnya aku dari aku yang dulu, aku yang berseragam compang camping dekil.

Dua jam aku duduk di ruang guru, aku bertemu dengan Ibu Sri, Ibu Awiek, Ibu Rita, Miss Vero, Ibu Handri, Ibu Prapti, Ibu Rosa, Ibu Dasi, Pak Theo, Pak Agus dan beberapa guru baru lainnya. Ah, aku juga tidak lupa bertemu dengan Joko. Seribu satu cerita kita bahas dari A sampai Z sampai Z lagi. Itu merupakan salah satu momen terindah di tahun 2011 ini. Sekolah ini memberiku banyak kenangan, bahkan sampai kini.

Sepulangnya aku, seorang teman yang membaca post aku di facebook bertanya sebab aku datang kembali. Aku jawab singkat, “Kangen.” Dia terheran-heran karena dia merasa tidak pernah kangen dengan guru-guru. Aku juga sebenarnya bukan kangen dengan guru-guru. Aku yakin guru-guru itu hampir semua lupa siapa aku. Beribu-ribu murid telah mereka ajar, puluhan mungkin ratusan yang mungkin jadi dokter. Lantas, kenapa aku mau kembali walaupun guru-guru itu tidak ingat aku? Karena aku hanya ingin menghormati mereka seperti pesan ayahku. Aku hanya datang untuk mengucapkan terima kasih atas jasa-jasa mereka. Sungguh, tanpa mereka, siapalah aku hari ini. Aku bisa menjadi dokter karena jasa-jasa mereka semua. Aku bisa menulis di blog ini tentu karena Ibu Awiek dan Ibu Tyas mengajarkan aku Bahasa Indonesia. Aku bisa mengerti menghitung dosis-dosis obat karena Ibu Sri dan Ibu Luci dulu mengajarkan aku matematika. Aku bisa mengerti tentang cara kerja Rontgen, MRI dan CT Scan, karena Ibu Rita dan Pak Agus mengajarkan aku fisika. Aku bisa mengerti yang mana jantung dan yang mana lambung karena dulu Ibu Dasi dan Ibu Titi mengajarkan aku Biologi. Hari ini aku bisa tahu dimana itu Irlandia, karena Ibu Elly dan Ibu Rosa mengajarkan geografi. Aku bisa menggambar jantung karena dulu Pak Hudi mengajarkanku menggambar. Last but not least, I can study medicine here in Ireland, speaking and writing English, because Miss Vero taught me in class. Tanpa mereka, hari ini aku sungguh bukan siapa-siapa. Apabila aku ini sebuah bangunan, mereka lah peletak batu-batu pertamaku. Apa yang mereka ajarkan adalah dasar-dasar dari segala sesuatu yang aku mengerti hari ini. Aku selalu berpaham bahwa orang pintar bukan karena pintar, tetapi karena belajar. Dan oleh sebab itu, kepada mereka lah aku harus kembali dan berterima kasih. Dan berterima kasih kepada mereka tidaklah perlu dengan membuat acara besar-besaran atau membagi hadiah yang banyak. Aku hanya datang dengan sekotak donat JCO dan diriku. Karena, aku kembali bukan untuk menyombongkan diri bahwa aku hampir menjadi dokter, karena banyak anak-anak Santa Maria angkatan aku dulu yang sudah menjadi dokter di Indonesia. Akulah yang terakhir. Namun, aku kembali untuk tunjukkan kepada mereka bahwa mereka telah melakukan sesuatu untuk aku yang dulu hitam, dekil, pemalas, pendiam, dan bodoh ini.

Seorang guru tidak akan pernah ingat setiap murid yang sudah mereka ajar, seorang guru pun tidak mungkin tahu apakah murid-murid mereka menjadi berhasil. Itu hanya sebatas harapan mereka saat murid-murid meninggalkan sekolah. Tahun ke tahun, seorang guru akan tetap pada tempat mereka dari kelas ke kelas. Mereka takkan tahu muridnya menjadi apa kecuali murid itu menjadi terkenal di televisi atau mereka kembali ke sekolah. Tetapi, apakah mereka menuntut itu? Tentu saja tidak. Mereka hanya sebatas berharap dan berdoa. Tetapi, kebahagiaan tertinggi seorang guru adalah ketika mereka melihat anak didik mereka berguna dan mencapai kesuksesan. Aku memanglah belum sukses, tetapi aku yakin kembalinya aku ke Santa Maria pada tanggal 21 September 2011 dengan selusin donat JCO telah mengukir senyuman setiap guru yang aku jumpai. Beberapa bulan lagi, apabila semua ujianku lancar, aku akan lulus menjadi seorang dokter. Dan itulah hadiah terbesar dariku untuk mereka, ‘Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa’.

The biggest happiness for teachers is to see their students be successful dan useful.

 

Sekian cerita ini sampai di sini. Aku tidak bisa berjanji banyak saat ini, karena aku belum tahu kemana nasib akan membawa aku. Namun, aku akan selalu ingat jasa-jasa guru-guruku. Dan, itulah kenapa aku pernah dan akan kembali ke sekolah-sekolah asalku dan menghabiskan waktuku bersama guru-guru. Karena, tanpa mereka, tiada aku. Karena, sekolahku adalah rumahku untuk menuntut ilmu.

 

Melalui cerita ini, aku hanya ingin berpesan:

Jangan pernah lupakan orang-orang yang telah berjasa sedikit maupun banyak kepada kita, karena setiap jasa yang kita ingat adalah doa bagi perjalanan hidup kita.

 

SERVIAM.

With Love,

eldios©

 

P.S: mohon maaf kalau bahasanya kurang bagus, ini nulisnya juga asal-asalan yang penting pesannya tersampaikan.

Advertisements