I’m sorry that I have to write this in Indonesian. I don’t feel right to write in English at the moment.


Ini bukan curahan hati.

Ini bukan pula puisi.

Ini sebuah teriakan.

Jeritan dari lorong suara tertekan.

Lolongan dari jiwa yang terbinasakan.

Tuhan… oh Tuhan…

Entah dari mana aku harus mulai menjerit.

Gelap gulita seakan menyelimuti.

Aku terjebak di dalam seonggok mangkuk berlumpur.

Ingin aku berdiri.

Berjinjit di atas jari-jemari kaki menengadah ke atas langit.

Demi sehirup udara segar mengisi relung kehidupan.

Sayang, pedih kejam kerikil di bawah sana.

Melukai menyayati hati.

TUHAN! OH! Dengarkah Engkau!?

Sungguh aku tak mengerti apa yang sedang terjadi.

Diriku begitu diselimuti amarah.

Penuh sampai menyesak seluruh rongga dada.

Menyeruak membakar semua logika.

Dimana kedamaian yang selama ini kurasakan?

Dimana ketenangan yang selama ini kutampilkan?

Dimana!? Dimana!?

Aku kini berjalan tak tentu arah, berlari kesana kemari.

Entah apa yang sedang aku cari.

Aku sendiri tidak pernah mengerti.

Kenapa semua ini terjadi?

Kenapa saat ini?

Kenapa aku?

Kenapa, kenapa dan kenapa?

Ingin sejenak kulupakan semua birahi ini.

Ingin aku berlari dari kenyataan.

Ingin aku sejenak bermain dalam mimpi.

Terbuai dalam alam dan tersenyum tanpa beban.

Namun, aku tersesat.

Terpanah pada satu sisi kehidupan.

Yang aku sendiri tidak mengerti kenapa aku jalani.

Semua menjadi serba semu.

Semua bagaikan hanya sandiwara.

Sampai kapan aku harus memakai topeng ini?

Sampai kapan aku harus terpaksa tersenyum?

Aku bukan seorang vendetta.

Aku mungkin hanya seorang pecundang yang tak pernah akan menggapai mimpi-mimpi.

Tuhan..

Mengapa semua ini Kau lakukan?

Mengapa Kau biarkan aku terlena sendiri?

Mengapa!? Jawab, Tuhan!

Jangan hanya diam, Tuhan!

Saatnya Kau bertindak!

Aku sudah rapuh.

Tidak cukupkah kau lihat aku jatuh terlunta-lunta?

Tidak cukupkah kau lihat hati ini yang terpijak dan tersayat?

Atau, mungkin diriku yang terlalu keras?

Mungkinkah aku yang selayaknya kini binasa?

Atau, ini harga mati yang harus kubayar demi cita-citaku yang konon mulia?

Inikah harga tanpa tawar yang Kau tawarkan?

Inikah perjalanan menuju surga yang Kau janjikan?

Inikah pembayaran atas nama karma?

Atau semua ini sebenarnya hanya.. hanya sebuah kilesa?

Tuhan, inginku, Tuhan.

Ingin kusudahi semua ini.

Ingin kuakhiri segala derita ini.

Berbagai cara telah kucoba.

Dari cerita sepakbola sampai sekotak eskrim.

Tiada satu yang mampu melenyapkan derita ini.

Mungkin kini saatnya kuakhiri nyawa ini.

Ingin aku berteriak sekencangnya.

Ingin kujambak rambut dan mencabik-cabik gigi.

Ingin kutusuk mata sampai buta.

Ingin kukoyak ujung bibir demi satu senyuman.

Ingin kuraih sebilah pisau dapur, kuasah atas batu dan menyayat leher.

Ingin kulihat darah bertebaran meriah di wajah.

Ingin kuraih sepucuk pistol, genggam erat dalam damai, berdoa dan DAR!?

Ingin kuledakan isi kepala ini.

Ingin kuhancurkan semua mimpi-mimpiku.

Namun, tak sanggup kuingkari satu janji yang sudah terucap.

Sebuah mimpi yang belum tercapai.

Mungkin ini harga yang harus kubayar.

Demi satu alasan yang kusebut kemanusiaan.

Demi satu cita-cita takabur yang jauh dari genggaman.

Perlahan namun pasti mereka jadi kerikil tajam.

Menusuk dan menghujam.

Menjadi satu beban dalam satu kehidupan.

Inilah satu kilesa.

Satu kebodohan yang tertancap erat dalam keduniawian.

Satu kerterikatan yang menghisap bagai rawa dan akhirnya menjerumuskan.

Menjadikan beratnya kehidupan demi melangkah ke depan.

Dan ketika ketakutan menghantui, tidak ada tempat bersembunyi.

Semua sirene berbunyi bersaut-sautan.

Memanggil satu pencundang keluar dari kegelapan.

Menuju satu titik terang di penghujung selokan.

Hanya doa yang dapat mengiringi.

Seperti kematian yang diiringi doa dan tangis.

Sayang, aku bukan seorang pahlawan.

Aku bukan seorang jagoan.

Aku bukan bangsawan.

Aku bukan konglomerat.

Aku hanya manusia biasa yang bermimpi.

Aku hanya manusia biasa.

Manusia… binasa…

Tapi, apakah karena itu aku harus kalah dan merana?

Bukankah ini tidak adil?

Kenapa mimpiku tak semudah orang lain meraih mimpi mereka?

Atau aku yang mimpi terlalu lama?

Cukup sudah kurasakan semua ini.

Cukup sudah kujalani hidup tanpa arah.

Kini aku hanya ingin tidur.

Diam dalam mata terpejam.

Dan semoga esok aku kembali berdiri.

Berjuang lagi walau tetap sendiri.

Dan tak kupedulikan segala pedih perih di hati.

Tanpa cinta, semua ini akan kuhadapi.

Dan semoga Sang Tuhan pun mengerti.

Bahwa ketika aku mulai berdikari, semoga Beliau tetap hidup di hati.

Karena, bukan doa-Mu yang kubutuhkan.

Hidup-Mu yang aku minta.

Kembalilah hidup dalam jantungku.

Kembalilah berapi dan bakarlah setan-setan kegelapan.

Binasakan segala amarah dalam diriku.

Remukkan semua murka dalam benakku.

Hancurkan semua keegoisan dan kebodohan.

Biarkanlah aku kembali berdiri dan terbang tinggi.

Berilah pemicu demi menggapai segala mimpi.

Karena bila kau dan aku menjadi satu.

Kita tak akan terkalahkan meskipun kiamat hujan batu.

THE END.

Demi cinta, damai, dan kemanusiaan.

With Love,

eldios©

Advertisements