Hari ini saya pertama kalinya ikut dalam kunjungan ke rumah pasien. Saya sangat antusias menyambut tugas ini. Bukan karena ingin jalan-jalan atau dapat izin keluar dari rumah sakit, tapi terlebih karena pasien yang dikunjungi mengidap schizophrenia, satu penyakit mental yang mana si pasien mendengar sesuatu atau memiliki / hidup di dunia yang tidak nyata. Mereka memiliki delusi mental berlebihan yang bahkan mereka tidak sadari.

Ketika saya tiba di rumah pasien pertama, saya sungguh terkejut. Beliau seorang yang sehat walafiat. Sungguh! Tidak ada satu pun tanda bahwa beliau sakit. Beliau mampu bercerita panjang lebar tentang kondisi jasmani dan tidak satupun merupakan ilusi. Tetapi, beliau membutuhkan obat untuk menunjang hidupnya agar tidak terkena serangan.

Begitu pula dengan tiga pasien berikutnya. Mereka menyambut dengan baik. Mereka mengerti apa yang mereka buat dan harus buat. Hanya kebutuhan terhadap obat-obatan membuat mereka menjadi sulit. Karena obat-obatan mereka ini hanya dapat diperoleh dari institusi tertentu.

Kita harus akui bahwa kita yang “normal” juga seringkali malas atau tidak merasa penting untuk pergi menebus obat. Apalagi mereka yang dikatakan “abnormal” dari segi mental. Disinilah pentingnya peran melayani mereka yang membutuhkan. Kita tidak bisa membiarkan mereka hidup tanpa obat. Bukan hanya diri mereka yang menjadi resiko, namun dapat berimbas pada orang-orang di sekitar mereka. Mereka tidak tahu bahwa mereka sakit. Mereka merasa diri mereka sehat. Terhadap mereka lah seorang dokter tidak dapat hanya mengobati. Kita harus melayani.

Ketika mengunjungi mereka, aku bertanya-tanya: “Bagaimana bila aku saat ini berada di mana mereka saat ini?”

To help is to serve. To serve is to bless.

Hasta.
eldios.

Posted by eldios with WordPress for BlackBerry.

Advertisements