Beberapa hari ini ada sesuatu yang agak mengusik kenyamanan pikiranku. Banyak sekali ajakan mendukung ini dan itu. Sayang, dukungan ini dan itu tersebut hanya terbatas atau sebatas menekan tombol sebuah ‘mouse’. Lebih parah lagi hanya sebatas ikut-ikutan alias ‘pengin eksis’. Manusia-manusia seperti ini terkadang meluruskan kerongkonganku. Aku pun teringat akan satu cerita yang aku pernah sadari dulu kala. Inilah cerita tentang seorang bodoh yang ingin menjadi pintar.

Satu hari, ada seorang manusia bernama ‘Bodoh’. Si Bodoh ini tidak mengikuti dunia. Kesehariannya hanya seputar dunianya sendiri. Dia tidak memahami apa yang terjadi di dunia luar. Menurutnya dunia itu hanya dalam radius 100 meter dari otaknya berada. Alhasil, si Bodoh selama bertahun-tahun hidup dalam kesendirian. Dia merasa kesepian karena dia tidak memahami apapun yang temannya katakan. Namun, si Bodoh ini adalah manusia yang jujur dan rajin. Namun, karena dia bodoh, dia menjadi seorang pendiam. Dia tidak berani mengikuti diskusi tentang cara-cara menjaga kebersihan atau pemilihan ketua RT apalagi tentang peperangan. Jadi, bertahun-tahun si Bodoh hidup dalam dunia bodohnya.

Sampai pada satu hari, Bodoh ingin menjadi orang pintar. Dia pun mulai mencoba bicara tentang cara-cara menjaga kebersihan, bagaimana menjadi seorang ketua RT yang baik dan yang mengejutkan adalah saat dia bercerita tentang ‘mengecam peperangan’. Si bodoh bicara panjang lebar tanpa arah. Banyak orang tidak paham dan menertawakannya. Si bodoh pun memasuki dunia yang disebut ‘Kebodohan’. Si bodoh banyak bicara tentang sesuatu yang sebenarnya dia tidak pahami. Dan karena dia bodoh, dia tidak mecari tahu dulu basis-basis argumentasi dalam pembicaraannya. Jadi, sebagus apapun cerita si Bodoh, tidak akan pernah dapat diwujudkan dalam kenyataan karena itu semua hanya imajinasi si Bodoh.

Bodoh pun pulang dengan rasa malu besar dari diskusi-diskusi yang diikutinya. Bodoh sembunyi dan mulai belajar. Bodoh ingin menjadi pintar. Bodoh mulai mencari informasi tentang kebersihan. Bodoh belajar tentang tata pemerintahan. Bodoh banyak membaca tentang sejarah dan mencari tahu tentang kegiatan-kegiatan kemanusiaan. Sampai pada saatnya si Bodoh mahir dalam segala hal. Dia mampur berargumentasi dalam kelompoknya. Dia bisa bicara banyak tentang membangun masyarakat yang sejahtera, adil dan makmur. Dia menyerukan segala bentuk kecaman atas segala bentuk penindasan. Sayangnya, si Bodoh tetaplah seorang bodoh berlatar belakang dunia kebodohan yang tidak mampu mengubah pemikiran menjadi perbuatan nyata. Sesungguhnya, jauh lebih mudah mengekspresikan pikiran dalam bentuk perkataan daripada perbuatan nyata. Si bodoh pun macam itu. Dia punya segudang amunisi bernama argumentasi. Adalah sang orator yang paling memahami argumentasi yang dia nyatakan. Dan sepantasnya sang orator yang memulai segala bentuk perbuatan nyata berdasarkan argumentasinya.

Dalam hal ini, si Bodoh yang sebenarnya telah pintar itu menjadi manusia pura-pura bodoh. Si Bodoh hanya berani menceracau melalu rongga mulut dengan lidah tak bertulang. Si Bodoh pun menjadi polusi dalam dunia. Hingga satu hari menjelang kematiannya di usia 60 tahun, si Bodoh menjalani interview dengan penjaga pintu kematian. Berikut sepenggal percakapan mereka:

si Bodoh (B): Namaku Bodoh.

penjaga (P): Aku tahu. Mari kita analisa perjalanan hidupmu, Bodoh.

B: Baik. Aku tidak pernah berbuat kejahatan.

P: Benar. Kamu tidak pernah berbuat jahat. Itu dalam asumsimu.

P: 20 tahun pertama hidupmu, kamu hanyalah seorang Bodoh. Kamu bersih dari segala bentuk dosa. 30% kemungkinan kamu pasti menuju ke surga.

B: *tersipu* Jadi, aku perlu 20% lagi, bukan begitu?

P: Tepat. 20 tahun kemudian, kamu mulai banyak bicara. Seolah-olah kamu yang paling pandai. Kamu mulai menyombongkan dirimu. Kamu menyakiti orang-orang sekitarmu dengan perkataan-perkataanmu karena kamu tidak memahami apa yang kamu ucapkan. Bodoh, kamu kehilangan 20% di masa ini. 40% kamu akan masuk surga. 20% kamu akan ke neraka.

B: Ah, baik. Tidak apa. Aku masih yakin masuk surga karena aku banyak berbuat demi kemanusiaan di 20 tahun terakhir hidupku. Aku bahkan masih melakukannya semalam.

P: Maaf, Bodoh. Yang kamu lakukan hanya sebatas bicara. Kamu tidak melakukan apapun yang nyata. Kamu membuang 30% terakhir untuk membiarkan puluhan ribu orang tertindas walau kamu berbicara banyak tentang itu. Bodoh, tentu anda tahu hasilnya, bukan?

Bodoh pun hanya dapat menyesali segala yang telah terlanjur terjadi.

Apa yang ingin kusampaikan melalui cerita si Bodoh? Aku ingin manusia-manusia yang hanya berseru-seru menambah polusi udara dunia, sebaiknya segara menutup mulut atau berbuatlah sesuatu yang nyata. Orang bodoh yang dia karena tidak paham adalah buruk tapi tidak salah. Orang yang tidak paham namun bicara banyak adalah orang yang hidup di dunia kebodohan. Orang yang memahami dan menyakini satu kebenaran namun diam atau mungkin banyak bicara namun hanya terbatas mulut dan jari telunjuk menekan tombol ‘mouse’ adalah orang yang pura-pura bodoh. Orang yang pura-pura bodoh adalah orang-orang salah, menjijikan dan hina. Bila anda menyakini sesuatu kebenaran, wujudkanlah kebenaran itu dalam perbuatan nyata. Jangan hanya berseru sana dan sini membuat kebisingan yang tak seorang pun hiraukan.

Sebagai contoh kecil (ini sangat kecil namun nyata), aku seorang bodoh yang tidak memahami pentingnya menolong sesama. Seiring aku tumbuh aku belajar pentingnya menolong sesama. Aku menyerukan itu dalam bentuk tulisan dan tentunya kenyataan. Aku mungkin tidak memiliki atau ikut organisasi kemanusiaan seperti palang merah. Namun, setahun 3x aku menyisihkan uang sakuku untuk didanakan kepada mereka yang dalam penderitaan. Lebih baik kecil tapi nyata daripada besar tapi pamrih dan busuk. Aku tidak pernah memilih apakah aku harus mendanakan uangku kepada manusia beragama sama, bersuku sama, berwarna kulit sama. Sungguh, aku menyayangkan manusia yang bisa memberikan banyak hanya untuk golongan, ras, suku dan agamanya, karena itulah manusia-manusia bodoh hidup dalam kebodohan dan pura-pura bodoh. Seolah-olah manusia yang berlainan warna kulit, bentuk mata, dan agama tidak layak hidup berdampingan, dan untuk memberi kepada yang berlainan mereka harus berpikir lebih dari 1000x untuk dana yang 10000x lebih kecil. Lebih parah lagi, bila seseorang berdana untuk meningkatkan pamor golongan, kelompok, suku, ras, dan agamanya. Penuh pamrih dan berbau busuk.

Kesimpulanku, orang bodoh masih mungkin masuk surga, orang melakukan kebodohan hidup bimbang antara surga dan neraka, orang yang pura-pura bodoh GO TO HELL!!

Belajarlah hidup.

eldios©

Advertisements