Sudah satu minggu terakhir saya mengalami insomnia. Sungguh sulit untuk saya sekadar menutup mata dan menuju alam mimpi. Kegelisahan dan kekhawatiran yang berlebihan tengah melanda bukan hanya pikiran tapi juga perasaan dan berdampak pada perbuatan serta kegiatan sehari-hari saya. Dalam salah satu ajaran Sang Buddha, peristiwa seperti ini akan disebut sebagai ‘kebodohan batin’ (ignorance in English or moha in Pali). Saya sungguh menyadari bahwa yang saya alami ini adalah sebuah perbuatan salah (evil act / akusala) yang bisa berakibat pada berbuahnya karma buruk (negative karma). Saya sudah berusaha mendayagunakan semua kemampuan pikiran, perasaan dan perbuataan untuk memutar-balikkan yang salah menjadi benar, namun saya kalah dengan pikiran saya kali ini.

Dalam situasi yang biasa dan sehari-hari, saya selalu menjadi tuan daripada pikiran saya. Saya belajar mengendalikan pikiran dan mencapai apa yang saya cita-citakan semenjak kegagalan ujian saya di pertengahan tahun lalu. Hingga saat ini, saya belum pernah gagal lagi dalam menghadapi berbagai tekanan bahkan saya sungguh hormat pada diri saya sendiri yang berhasil keluar dari tekanan kegagalan di Januari kemarin hanya dalam satu malam.

Namun, dalam beberapa hari ke depan saya akan menghadapi hari-hari penentuan nasib terhadap ‘banding’ yang saya ajukan bulan lalu. Begitu banyak halang-rintang yang harus saya hadapi apabila gagal. Beberapa di antaranya adalah kenyataan bahwa saya harus ujian ulang dengan jadwal ujian yang bukan saja tidak membantu melainkan ikut menyusahkan. Hal ini ditambah lagi kenyataan bahwa harga tiket pulang ke Indonesia berada pada level 1000 Euro lebih mulai tanggal 30 Juni 2010 yaitu satu hari setelah ujian ulang terakhir saya. Untuk memperkeruh pikiran saya selalu teringat bahwa saya akan kehilangan 300 Euro untuk banding dan menambahkan 300 Euro lagi untuk ujian ulang bila hasil banding tersebut ternyata tidak meluluskan saya. Saya tidak mungkin menyebutkan semua kegiatan dan rencana yang telah saya susun sejak tahun lalu akan hancur lebur bukan saja harus dibatalkan. Oleh karena itu, saya membutuhkan satu keajaiban atau daya magis atau apapun itu untuk meluluskan saya.

Namun, tidak semudah itu saya percaya bahwa saya pasti akan lulus. Dan kenyataan bahwa saya tidak memperoleh satu jaminan dan kepastian itulah yang membuat pertahanan saya runtuh sedikit demi sedikit. Pada awalnya saya hanya merasa takut bahwa saya akan gagal dan berbagai masalah akan menghadang. Lalu, saya mencoba untuk menenangkan diri. Saya mencoba mengurangi kegiatan akademis saya karena saya sempat mengalami phobia terhadap buku-buku pelajaran. Setiap saya melihat buku-buku atau sekadar lalu di depan rak buku saya akan dihantui ketakutan akan kegagalan. Saya bahkan sempat menutupi buku-buku tersebut dengan handuk supaya saya tidak sedikitpun melihat mereka. Namun, tetap saja semua itu rasanya sia-sia belaka. Saya tetap merasakan ketakutan itu.

Hari kedua, saya masih dalam suasana getir diterpa delusi buku-buku. Namun, saya mulai merasakan meningkatnya tanda-tanda bahwa tingkat stres saya sudah mulai berada pada titik yang tidak bisa ditolerir. Mudah saja untuk mengetahui bahwa saya sedang berada dalam tekanan pikiran. Ada tiga keluhan yang akan selalu meluncur dari mulut ataupun perbuatan saya yang menandakan hal itu, yaitu:

1. Perut yang membuncit dan berisi angin yang akan menyulitkan saya bernapas kadangkala. Perut ini bukan sekadar buncit, tapi saya kadang malah takut perut ini meletus karena angin yang entah dari mana datangnya. Dalam kondisi kronis, perut ini akan mengeluarkan segala bunyi yang menakutkan baik dalam kondisi lapar maupun kenyang bahkan kekenyangan. Bunyi itu seperti bunyi aliran sungai. Di penghujung tahap kronis, komplikasi semua ini akan berakhir pada perasaan ingin muntah, tapi tidak setetes liurpun yang keluar.

2. Sakit kepala yang sangat ganas. Dia bisa datang tiba-tiba dan membuat lemas. Ini bukan sakit kepala biasa yang bisa saya kalahkan dengan sebutir analgesik. Kadangkala saya harus menelan tiga butir analgesik untuk menenangkan otak yang seperti diremas-remas. Hanya menenangkan bukan menyembuhkan.

3. Komplikasi di sekitar dada dan punggung. Setelah peristiwa perut dan kepala sampai pada tahap kronis, maka saya akan memasuki tahap sakit dada dilanjutkan dengan punggung dan pinggang, terakhir sesak nafas. Di saat inilah saya harus tidur. Tidak ada satu hal pun yang bisa saya lakukan dalam tahap itu.

Ketiga komplikasi di atas sudah dan bahkan masih saya alami setiap hari. Ini sungguh mengganggu kinerja sehari-hari saya. Saya sangat kecewa dengan pencapaian penelitian yang saya lakukan dan ini malah semakin meningkatkan level stres saya.

Saya awalnya berusaha untuk mencari teman bicara. Saya ingin melepaskan semua beban ini karena saya rasa sudah terlalu banyak. Namun, saya tidak menemukan seorang pun di Irlandia ini yang bisa memahami saya. Sungguh, saya merindukan teman-teman saya di Indonesia. Saya masih suka ingat bagaimana di zaman SMP dan SMU, aku bisa sesuka hati mendatangi teman dan bercerita. Mereka mendengarkan. Mereka memberi pandangan. Mereka mencoba semampu mereka. Pernah dalam satu retret di SMP kita satu kelas dimarahi Pastor karena kita membuat sesi curhat antar teman sendiri. Semua itu tidak bisa saya dapatkan di sini. Teman-teman saya yang berasal dari negeri tetangga itu bukan saja tidak memberi tanggapan tapi memutus pembicaraan sebelum saya sempat bercerita bahkan mereka terang-terangan semacam acuh tak acuh. Inilah sebabnya saya tidak merasa mempunyai teman di Irlandia ini. Tetapi, untuk membawa cerita ini ke keluarga di Jakarta juga menambahkan beban mereka dan berakibat bertambahnya beban saya sendiri karena mereka pun punya masalah yang lebih serius dan selalu menghubungi saya untuk berdiskusi. Bagaimana mungkin saya menumpah-ruahkan masalah saya kepada orang-orang yang menumpahkan masalahnya ke saya? Sedangkan adik saya yang di Inggris sudah terlalu ‘dewasa’ untuk sekadar ingat bahwa saya adalah saudaranya. Seringkali Jakarta bertanya ke saya tentang dia, saya hanya bisa jawab tidak tahu karena memang tidak tahu. Sungguh dia saat ini bukan seperti yang saya harapkan ketika saya mendukung dia ke Inggris. Namun, biarlah dia berkembang menjadi ‘dewasa’ yang dia definisikan sendiri karena masalah saya di atas sudah meng-amburadul-kan hidup saya sendiri tanpa perlu diperkeruh miliknya.

Singkat cerita, saya mencari-cari kutipan-kutipan orang-orang besar seperti Buddha, Dalai Lama, Mother Teresa, Gandhi, dan sebagainya untuk mencari ilham dan menenangkan saya. Tapi tidak berguna sedikitpun sampai akhirnya saya hanya bisa menceritakan kisah sulit saya kepada beberapa bantal di atas kasur saya, gambar Buddha dan foto-foto teman Indonesia saya yang terpampang di tembok kamar saya. Kepada mereka lah saya berbicara dari hari ke hari. Di depan mereka lah saya bisa mencurahkan semua perasaan saya. Saya tahu bahwa mereka tidak akan pernah dapat membalas, tapi saya tahu bahwa mereka selalu membawa saya dalam doa mereka. Memang ini terdengar gila, namun saya merasa saya tidak punya pilihan lain karena beda zona waktu tidak membolehkan hubungan bilateral yang mudah. Apalagi mereka sudah di jenjang dunia kerja. Sayang, kali ini curhatan hati terhadap foto-foto itu tidak bekerja dengan baik. Saya masih merasa khawatir. Saya masih kalut dan takut.

Pada akhirnya saya pun mencoba cara terakhir yang biasanya menajdi jurus andalan saya bila stres. Saya meditasi dalam setiap kesempatan yang memungkinkan. Tiga hari berturut-turut saya meditasi dan saya terkejut terhadap hasilnya. Tidak berdampak sedikit pun! Saya pun mencoba mendekatkan diri pada Sang Ilahi walau saya tahu saya tidak berhak dekat pada-Nya. Saya yang sering absen sembahyang dan puasa ini sungguh munafik mendekatkan diri karena saya mulai kehilangan arah tujuan pikiran. Tapi saya tetap harus mencobanya. Saya memutuskan untuk membaca doa-doa yang terlengkap selama tiga hari berturut-turut dengan diawali puasa satu hari penuh dan derma. Saya tidak pernah melakukan hal seperti saya sebut di kalimat sebelum ini. Saya tidak pernah sembahyang, meditasi, puasa dan derma dalam satu hari kecuali ketika saya dipaksa retret oleh papa. Saya juga hampir tidak pernah sembahyang doa-doa yang terlengkap selama tiga hari berturut-turut. Itu bukti seberapa dalam saya jatuh ke ketakutan dan stres ini. Saat saya menyelesaikan puasa itu pun saya terkejut karena saya mampu punya 24 jam. Semua ini sungguh aneh, tapi lebih anehnya lagi saya masih belum mampu keluar dari cengkraman kalut dan teman sepermainannya.

Saya juga untuk pertama kalinya mengucapkan permohonan di akhir sembahyang. Saya biasanya beranggapan bahwa para Ilahi mengetahui apa yang kita harapkan dan mohonkan karena Sang Ilahi adalah Maha Tahu. Namun, saya memutuskan menyebutkan permohonan itu untuk mencurahkan tekanan ini sedikit. Setidaknya Sang Ilahi akan benar-benar tahu apa yang sangat genting saat ini dalam hidup saya bila Beliau mendengarkan doa saya.

Saya merasa saya mulai memasuki situasi dimana pikiran dan akhlak tidak berfungsi dengan baik karena teredam oleh perasaan yang dihantui siang dan malam. Saya tahu ini semua hal bodoh namun ketika anda tahu bahwa anda akan mati dalam lima menit lagi dan tidak punya kesempatan untuk mempersiapkan apapun, maka anda akan merasakan apa yang saya rasakan saat ini, meskipun anda sudah sempat membeli peti mati dan lahan kubur jauh sebelum berita kematian itu.

Selanjutnya, saya hanya bisa melakukan hal terakhir dan saya tidak pernah melakukan ini sebelumnya. Saya menghubungi seorang bhikkuni untuk meminta saran beliau. Saya sudah kehilangan arah. Bila diumpamakan, saya ini bagaikan perahu layar dengan dinding kapal yang berlubang dan layar koyak di tengah badai tornado dan hujan deras di atas samudera atlantik. Sedikit demi sedikit tenggelam, namun tidak ada yang bisa dilakukan lagi walaupun segala isi kapal termasuk makanan sudah dilempar ke tengah lautan.

Saya sungguh tidak tahu lagi harus berbuat apa. Saya tidak berani menghadapi hasil banding itu karena saya takut akan kegagalan lagi. Saya tahu dan menyadari betul bahwa masih ada juga kemungkinan untuk lulus. Itu yang saya jadikan alat pemicu dan poin positif dalam pikiran saya. Namun, hal itu tidak pasti dan kekacauan pikiran saya terjadi di saat saya berusaha mempertahankan pikiran positif saya tapi di lain pihak saya dibantai oleh ketakutan-ketakutan itu. Itu menjadi seperti David melawan Goliath namun David kalah kali ini setelah beberapa kali menang.

Saya saat ini masih berharap bahwa saya bisa lulus melalui banding ini. Saya masih memiliki banyak tanggung jawab atas rencana yang telah tersusun. Bukan hanya untuk saya dan keluarga saya. Bukan hanya untuk hari ini dan esok. Tapi ini demi umat manusia di masa depan. Saya hari ini berjuang demi cita-cita yang bukan untuk saya sendiri. Itulah sebab saya sembahyang kalau saya sembahyang. Saya tidak pernah meminta untuk menjadi kaya raya, pintar atau terkenal. Saya hanya ingin hidup berkecukupan, punya banyak teman dan bisa membuat orang lain tersenyum dan merasa tenang.

Sungguh, tidak akan pernah berakhir cerita saya ini apabila bukan saya yang memutuskan. Sudah satu jam saya memberi ocehan di sini, namun saya tetap tidak bisa menutup karena saya masih dalam tekanan batin. Oleh karena itu, saya harus memutuskan secara sepihak bahwa saya harus tidur untuk melanjutkan penelitian esok.

Dalam tujuh hari masa kekalutan saya ini, saya belajar sesuatu. Saya sekarang mengerti bagaimana seseorang yang dalam tekanan selalu mengatakan tidak tahu atau tidak mau tahu. Setidaknya saya mengerti bagaimana perasaan-perasaan pasien saat saya harus mengabarkan berita buruk. Dan daripada itu, saya menarik satu kesimpulan bahwa ‘kita takut karena kita tidak mempunyai jaminan’. Bila ada satu orang yang menjamin saya bisa lulus melalui banding, maka saya tidak akan takut. Tapi, di samping itu, saya juga kini benar-benar memahami maksud ajaran Sang Buddha bahwa semua berawal dari pikiran. Karena pikiran kita tahu makan kita akan berpikir ini dan itu, leh sebab itu kita harus bisa mengendalikan pikiran. Sayangnya saya gagal mengendalikannya dalam satu minggu ini. Saya kalah kepada Mara, si penggoda, saat ini setelah memenangkan pertarungan tahun lalu. Bagaimanapun, kekalahan saya kali ini akan menguatkan jati diri saya sebagai petarung yang lebih tangguh di masa depan dan semoga, atas nama Buddha dan Dhamma, bila saya lulus melalui proses banding, saya dapat mengembangkan diri saya menjadi manusia yang lebih tangguh karena tembok yang mengurung saya akan terpecahkan.

Inilah keluh kesah dan harapan saya kali ini. Saya pernah menulis tentang resolusi tahun baru dan itu hanya omong kosong apabila saya gagal. Dan itu akan mengembangkan saya menjadi manusia yang lebih baik bila saya lulus. Oleh karena itu, saya mohon kepada semua pihak, hadirkanlah saya dalam doamu dan semoga Sang Ilahi mendengar petisi saya dan mau menolong seorang pendosa seperti saya. Dan, semoga saya menemukan satu jalan terbaik untuk saya.

Semoga semua makhluk hidup berbahagia. Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

I stand still today to face the truth of life for my family and friends and I believe that I am not afraid of anything including the death and after all the point that I’m actually afraid these few days is to disappoint my family and friends in the future because they have been very supportive to me both physically and spiritually.

I can’t thank you enough for being there with me with or without you physically because I feel the connection. I feel it and I love you all.

In the name of medicine, I will fight.

In Buddha, I learn.

In God, I pray.

In family and friends, I live.

In me, I believe.

With Love,

eldios©

Advertisements