Siang hari kemarin mama tiba-tiba telepon aku.

Mama (M): Vyn, ma denger i i  bilang lu tulis-tulis di internet kalau gagal ujian ya?

Aku (A): Iya. Memangnya kenapa?

M: Malu lah, Vyn. Kenapa harus begitu sih?

A: Kan memang Vyn gagal. Apa yang perlu kita malu? Kita justru perlu tunjukkin. Hari ini memang gagal. Biar semua orang tahu Vyn gagal, tapi nanti kita tunjukkan ke semua kalau Vyn gagal itu justru memacu Vyn jadi orang yang lebih baik.

M: Ya, tapi nanti kalau **** (salah seorang kerabat yang suka bergosip) cerita kesana kemari gimana?

A: Ya, gak apa-apa lah. Kalau dia ngoceh nanti kita tunjukkan, Vyn jadi sarjana. Vyn punya ijazah. Vyn jadi dokter.

M: Kalau lu memang bisa siap tantangan ya udah gak apa-apa. Ma cuma takut lu jadi malu aja.

A: Vyn, rasa gak perlu malu. Banyak orang gagal sekarang jadi sukses. Justru Vyn ngomong begitu di internet, teman-teman langsung pada telepon Vyn, pada chatting kasih semangat, kasih dukungan, kasih anjuran gimana biar bisa lulus. Kalau Vyn diam saja, siapa yang tahu? Vyn diam-diam di rumah satu orang, gak makan, jadi sakit segala macam, stres sendiri. Kan lebih baik Vyn keluarin saja semuanya. Biar Vyn pun cepat bisa lepas dan bangkit lagi.

M: Okelah, yang penting lu siap tantangan aja.

A: Ya, pokoknya mama papa gak usah takut atau malu. Lebih baik sekarang gagal dan Vyn jadi orang sukses nanti daripada sekarang sukses tapi nanti kerja apa juga gak bisa.

M: Oke. Ya udah. Jaga diri baik-baiklah.

A: Oke. Bye-bye.

Itulah perbincangan antara aku dan mama kemarin. Beliau begitu khawatir bahwa aku malu karena cemoohan orang lain. Namun, aku tidak memberitahu beliau bahwa dalam 1 malam aku merenungkan kegagalan aku dan aku menjumpai 3 fakta berikut:

Seseorang yang hebat dan kuat bukanlah seseorang yang tidak pernah gagal namun ialah seorang mampu melalui berbagai kegagalan yang menerpa

Semakin tinggi satu pohon semakin kuat angin menerpa. Semakin tinggi kita berkarir semakin kuat rintangan menerpa

Bahkan Buddha pun pernah gagal dalam proses menjadi Buddha

Terkadang kita tak bisa menerima kegagalan karena kita takut menanggung malu akibat cemoohan. Buddha pernah dicemooh kerabatnya karena Yang Agung gagal memenuhi harapan pertapa-pertapa lain dan Yang Agung dianggap mengingkari janji. Pada akhirnya, Buddha yang mencapai ke-Buddha-an terlebih dahulu dan pencemooh tidak lagi mencemooh bahkan mengagungkan Buddha.

Aku selalu percaya, lebih baik aku mengakui kegagalanku saat ini dan kemudian berdiri kembali untuk kembali bertarung dengan menjadi manusia yang lebih kuat dari sebelumnya. Sebab semua ini pada akhirnya akan kembali pada satu kata yakni KARMA.

sadhu!

eldios©

Advertisements