Dublin, Feb 17th 2010

Pagi itu aku sedang duduk bersama teman yang lain di sebuah kafetaria di School of Nursing di Dublin City University. Saat itu aku memang sedang menunggu seseorang yang memang seharusnya datang menjemput kami untuk mengikuti salah satu program physiotherapy di sana. Aku duduk diam dikarenakan mata yang masih mengantuk dan letih berjalan kaki mengelilingi universitas itu karena aku lupa bawa peta.

Tiba-tiba saja, dari balik pilar muncul seorang wanita dan dia berucap, “Are you guys here for… ?” Kalimat itu tidak terselesaikan dalam benak aku. *shock, terhipnotis. Aku terkejut. Hampir saja aku terjungkal dari kursi yang aku duduki. Pikiran aku langsung menunggangi sebuah pesawat concorde terbang melintasi Eropa, Timur Tengah, dan Asia Selatan menuju Indonesia. Senyum, model rambut dan gaya wanita di depan aku saat itu amat sangat mirip dengan gaya salah seorang temanku. Hanya perbedaan tinggi badan, warna mata dan kerut kulit wajah saja yang membedakan tampak luar mereka berdua. Wanita itu seorang cardiovascular physiotherapist. Teman yang aku maksud itu adalah seorang dokter gigi berinisial W.

Aku tak bisa melupakan seberapa terkejutnya aku hari itu dan senyum-senyum sendiri, juga bagaimana tiba-tiba otak aku ‘kosong’ karena pulang ke Jakarta untuk beberapa detik sebelum merespons pertanyaan dia. Dalam sepersekian detik saat itu, aku mengira aku tertidur karena aku masih dalam status mengantuk.

P.S: beberapa temanku yang memahami aku akan mengerti apa yang sebenarnya terjadi di saat otak aku kosong itu tanpa perlu aku beberkan di sini.

– End of Part 1 –

Dublin, Feb 18th 2010

Siang itu aku baru saja pulang dari pesta ulang tahun salah satu temanku. Sesampainya di rumah, aku mandi supaya meraih kembali kesegaran dan mengurangi bau asap dari restoran Jepang itu. Setelah itu, sesuai dengan janji, aku menghubungi kakak dan mama. Sementara kami terhubung melalui skype, aku melakukan rutinitas e-mail dan facebook. Ternyata beberapa temanku sudah mendapatkan hasil ujian Januari lalu. Aku pun memutuskan mencari tahu hasil aku.

Aneh. Sungguh aneh. Aku tidak sedikit pun ragu bahwa aku dapat melalui ujian Januari kemarin dengan baik. Aku cukup yakin bahwa aku menjawab soalan-soalan ujian dengan sangat baik. Apalagi semester lalu, aku didukung dengan semangat belajar yang besar. Untuk pertama kali dalam sejarah, aku memulai persiapan ujian sejak minggu pertama. Aku tidak aktif dalam berbagai kegiatan organisasi. Aku tidak ikut hadir dalam berbagai acara sekolah. Aku benar-benar mempersiapkan diri. Oleh karena itu, untuk pertama kalinya dalam sejarah juga, aku dapat mengulang pelajaran sampai tiga kali sebelum ujian untuk 2 mata pelajaran, sedangkan untuk mata pelajaran yang terakhir aku hanya dapat membaca 2 kali.

Hasilnya? Aku gagal di dua mata pelajaran pertama. Nilai aku 97/200 dan 95/200. Aku sungguh murka. Depresi langsung menghantam. Semua yang dikatakan oleh kakakku terdengar bagai suara-suara yang tak kumengerti. Aku tak dapat percaya bahwa aku gagal lagi. Dan untuk pertama kalinya, aku gagal ujian setelah aku yakin bisa mengerjakan ujian itu dengan baik.

Setelah sekian menit aku diam tak menjawab, kakakku pun bertanya, “lu masih mau ngomong nggak sih?” Dan aku menjawab, “gak tau deh.” Entah apa yang dia katakan selanjutnya, aku tak ingat. Tetapi tiba-tiba saja aku meletup. Aku berteriak, “Gw ini baru gagal ujian LAGI!” Dan kakakku pun memutuskan hubungan skype. Sedangkan aku diam. Hanya diam. Aku tidak bisa menerima hasil itu. Perbedaan antara nilaiku dengan batas lulus hanya 3 poin dan 5 poin (1.5% dan 2.5%).

Sepanjang malam, aku gelisah dan murka. Aku tidak menangisi hasil itu. Sebaliknya aku marah dan lemas karena usahaku yang begitu besar hanya menempatkanku di posisi yang sangat aku benci ini. Semua temanku berusaha membangkitkan aku, aku hargai apa yang mereka coba, namun mereka mungkin tidak merasakan sulitnya di posisi aku. Peristiwa ini seperti saat kau telah berjuang mati-mati hingga hanya harga diri yang tersisa dan ternyata hasilnya semua itu sia-sia belaka. Itu yang membuatku depresi berat. Aku kalut dan banyak hal yang mencoba menghantuiku mulai dari menyerah pada dunia kedokteran sampai percobaan bunuh diri.

Namun, aku berusaha mempertahankan diri. Aku hanya mencoba tetap percaya bahwa aku menjawab soalan-soalan dengan baik dan aku yakin seharusnya aku lulus dan nilai yang tertera adalah SALAH. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa aku masih berhak untuk melanjutkan perjuanganku. Hanya itu, hanya setitik harapan menyelesaikan gelar dokter aku yang aku punya sekarang.

Dan dari sisa-sisa puing semangat aku mencoba membangun kembali diriku mulai hari ini dengan harapan itu. Aku harus bisa berdiri kembali dan tetap berjuang karena pernah seorang berkata,

Semakin tinggi satu pohon, semakin kencang angin menerpa.

Aku harus menelan pil pahit ini dan kemudian berdiri sekokoh pohon-pohon yang berusia ratusan tahun, serta kembali berjuang walaupun aku telah mengecewakan lagi orang tuaku dan kakak-adikku juga. Itu yang membuat aku menyesali kegagalan ini.

Aku kini hanya berharap nilaiku akan naik sesuai yang aku berhak melalui ‘recheck’. Jika nilaiku memang ternyata salah hitung, maka hidupku akan kembali normal, bila tidak, maka hidupku akan sedikit banyak berantakan.

Jikalau boleh, inginku meminta sedikit dukungan dan doa dari kalian, teman-teman. Hanya kalian selain daripada keluarga yang kuyakini mampu membantuku melalui perjuangan kali ini.

P.S: aku pernah menulis sebuah resolusi tahun baru. Poin pertama resolusi tersebut mengatakan harapanku untuk lulus ujian ini. Poin kedua, ketiga, keempat, kelima hingga keenam dari resolusi tersebut akan dapat kuraih hanya bila aku dapat melalui ujian ini tanpa harus ujian ulang di bulan Juni. Jadi, bila recheck aku gagal, maka 60% dari resolusi tahun baru aku akan gagal hanya dalam waktu 1 bulan sejak aku menulis resolusi tersebut. Menyedihkan.

P.S.S: To my elder sister, I’m sorry and apologize for shouting at you. I didn’t mean it. I was just upset upon myself that I failed 2 times in a row and felt how stupid I am. I truly feel sorry for that.

– End of part 2 –

Doakanlah aku.

With Love,

eldios©

Advertisements