Hari ini adalah hari yang sangat menyesatkan kalau gw boleh menerjemahkan perasaan gw. Semua terjadi bertubi-tubi tanpa perasaan. Huh!

Pertama-tama, gw pagi-pagi sudah terbangun karena ada sms dari XL. Dan tentunya, kalian tahu lah rasanya terima sms dari si XL itu, nggak pernah ada untungnya. Setelah bangun, gw seperti biasa pasti lihat jam berapa. Cilakanya, gw kebiasaan lihat jam yang ada di laptop. Jam menunjukkan pukul 6.00. Emang udah pagi sih, TAPI MASIH KEPAGIAN!! Gw kan baru tidur jam 3. Habis itu, gw lanjut lagi episode sinetron yg lagi iklan di mimpi gw dong.

Nah, nggak lama, alarm clock gw bunyi!!! Oh… TIDAKKKK!!! gw bangun lagi deh, jam 7.45 pagi. Gw lihat lagi dong di laptop. SIALNYA, gw kena klik browser gw dan JRENG! JRENG! JRENG! Gw menerima e-mail yang memupuskan harapan gw satu lagi. Harapan gw untuk bisa lebih mudah di masa depan. Ternyata, gw masih bertakdirkan hidup agak susah dulu, setidaknya sampai saat ini. Gw pun lesu jadinya. Terus gw jalan ke kamar mandi, cuci muka, sikat gigi, pakai gel rambut, ganti celana. *IYA! IYA!* Gw nggak mandi tadi pagi. Itu karena gw baru mandi sebelum gw tidur. Habis itu, yah gw siap-siap berangkat.

Tuk! Tuk! Tuk! gw melangkah ke halte bus. Bus demi bus lewat. 1… 2… 3… 4… Jam di tangan menunjukkan pukul 8.30 pagi. Aha! Gw telat. Akhirnya, bus yang seharusnya tiba dari tadi sampai juga buat jemput gw. Pas naik bus, gw lihat ada cewe lumayan imut di sebelah gw. Dan, seperti lelaki lainnya, *Jangan in denial wahai kaum adam* gw yang biasa langsung naik ke atas duduk paling depan supaya dapat leg room lebar, rela duduk di bawah. “Ah, gak apa-apa. Sesekali, nge-pervert-in cewe cakep. Kan belom tentu setiap hari ketemu.” begitulah otak gw yang koalisi dengan si pikiran busuk. Eh, belom sempet gw nikmatin, ternyata doi turun di halte berikutnya yang jaraknya cuma 200-an meter! Ah… Tidak!! Kiciwa perasaan gw. Demi menenangkan rengekan hati gw pun berpikir,”Yah gak apa lah. Nanti besok-besok kalo masuk pagi lagi, telat lagi, kan ketemu lagi!”

Terus sampailah gw di rumah sakit tempat gw menuntut ilmu. *Yes, nuntut doang!* Dan, terjadilah keberuntungan pertama. Begitu duduk, si Dokter di podium sambil melambai-lambai, “Has everyone sign the attendance sheet?” Teng! “Untung gw sampe pas ambil attendance, jadi gak rugi lah terlambat.” Ternyata, cerita keberuntungan itu nggak merubah nasib gw hari ini. Pada saat gw mau tulis nama di kertas absensi, temen gw ada yang tanya, “Siapa lagi yang main voli?”.

Gw jawab, “Gw, Lu, Dia (sambil nunjuk temen gw yang lain), R, S, C, T, A.”

“Lho!? si A kan nggak maen, kemaren gw lagi badminton-an, gw tanya, dia bilang ke gw dia nggak maen, soalnya mau ke Belfast.” kata temen gw itu.

“Huee (dengan tampang bloon gw), yang bener? Nama dia udah gw daftarin lho.”

“Ya, lu coba aja tanya dia.”

Titatutitutaitut.. drr drr.. nggak di angkat.

drrtt drrtt!! nggak di angkat.

Gw udah naik pitam saat itu. Gw sms lah Sang Kapitan. Gw tanya mau pilih siapa lagi karena ada si pecundang ini yang mengundurkan diri. Habis itu, gw dapat telepon.

“Hallo.” jawab gw.

“Hi. Who are you?” tanya dari seberang. What the fcuk!! Gw udah sms berkali-kali kabarin tentang latihan voli, dia nggak tahu nomor hp gw.

“Hi. Yea, ini gw, Edvyn. Gw mau tanya elo aje langsung. Gw denger lu nggak jadi main voli? Kenapa?”

“Soalnya, gw mau maen hockey minggu ini. Ada pertandingan.” Ouch! So, dia pikir main voli lawan kampus lain, bukan tanding? Pantes aja, nggak naik kelas.

“Kalo, lu ada pertandingan, kenapa nggak bilang dari awal? Kenapa pas gw bilang itu latihan untuk pemilihan tim, lu dateng?”

“Gw baru tahu Sabtu kemarin. Baru dikasih tahu.” Dan, hari ini SENIN!!! Emangnya, hari Minggu itu hari libur handphone?

“Kenapa lu nggak kasih tahu gw kemaren malem? Gw udah masukin nama lu, tau nggak?”

Dengan tanpa merasa bersalah dia jawab, “Gw juga baru tau Sabtu”

Okay. Dia ini emang pantes nggak naik kelas. “Ya udahlah. Loser!”

Setelah itu, hari pun berjalan. Gw ngantuk banget seharian. Ini musti dikarenakan kurang tidur. Gara-gara si XL sih! Gw pun terpaksa beli permen polo spearmint buat gw kemut-kemut karena pelajarannya nggak selesai-selesai gara-gara ada satu orang Afrika, bule Afrika. *Jangan tanya kenapa bisa!* Itu orang Afrika, dia berdebat sama Sang Guru. Entah apa yang didebatin, karena menurut gw, perdebatan tentang hal yang mereka debat sampai masuk liang kubur, dilanjutin sama anak cucu, sampai  anak cucu masuk rumah abu juga nggak akan ketemu titik temu.

Akhirnya, setelah 2 jam setengah, habis sudah pelajaran antah berantah itu. Pelajaran selanjutnya, seperti biasa, catatan belum di-upload. Pelajaran terkahir pun terus tiba, dan lagi-lagi kebiasaan malas orang bule keluar. Yang di catatan dia apa, yang dia kasih ke kita apa. *Sigh* Rasanya Euro-Euro gw melayang begitu aja.

Setelah cukup menuntut, gw pun pulang. Sampai di rumah, gw niatnya istirahat. Ternyata, pekerjaan gw masih banyak banget. Gw harus mengumumkan siapa aja yang terpilih masuk ke tim voli. *YES! I’m the devil!* Gw sms lah orang per orang. Setelah itu, gw kira pekerjaan gw udah habis. Gw pun masak *panasin sayur maksudnya*, terus mandi dan makan.

*nyam! mengernyitkan dahi* Nasinya basi. Jadi, makan malam gw hari ini cuma 10 potong breaded scampi. Setelah makan, gw mampir facebook bentar. Eh, tiba-tiba gw baca status orang di news feed gw. Dia berusaha memutar-balikan fakta. Dia salah satu orang yang nggak dimasukin ke dalam tim voli sama Sang Kapitan. Bukan karena dia nggak jago. Dia mungkin lebih bagus dari gw. *Jujur kan gw?* Cuma dia udah main cabang olahraga yang lain buat pertandingan ini. Padahal gw udah tulis di sms gw begini,”Kalian nggak terpilih masuk ke tim voli tahun ini. Tapi ini bukan karena kalian nggak bagus. Ini bukan karena kalian nggak ada skills. Ini karena kita cuma bisa punya 8 pemain. Selain itu, kita mau memberikan kesempatan kepada pemain-pemain lain yang nggak berkesempatan tanding di cabang lain untuk diutamakan. Supaya setiap orang punya kesempatan yang sama. Supaya adil. Jadi yang udah main di cabang lain, dimohon kesabarannya”

Ternyata! Orang ini malah bilang gini,”Gw dianggap nggak mampu main voli. Yang bener? Gw pengin lihat gimana tim volinya main dan kita lihat siapa yang bakal ketawa di akhir :D”

Hmm. Opini gw sih berkata gini, “Eh, lu main juga belum tentu kita menang, mungkin lu main, kita malah jadi hancur karena kesombongan lu dan gw berasa beruntung karena di tim voli gw, kita united. Kita nggak ada orang yang sombong, yang sok.” Tapi nggak gw sebutin sih. Gw cuma menjawab yang semestinya gw luruskan. Kenapa? Karena gw nggak mau, kredibilitas gw sebagai salah satu Event Organizer dijatuhkan. Gw juga nggak mau Kapitan gw dilecehkan.

Bagaimanapun, yang sudah biarlah sudah. Yang penting gw tetap berlatih bersama tim yang sekarang. Kita ke arena bukan tanding untuk menjatuhkan lawan. Kita kesana mencari kawan. Kita bertanding bukan menang atau kalah. Kita bertanding untuk sebuah pertemanan. Asalkan kita tidak dipermalukan ya tidak apa-apa. Pertandingan adalah pertandingan, menang kalah itu biasa, karena pertandingan yang bisa nggak ada pemenangnya cuma pertandingan liga sepakbola sama catur. Tidak pernah ada voli seri, badminton seri, basket seri, biliar seri. Kalaupun seri, toh masih ada peraturan yang memenangkan seseorang dan mengalahkan seseorang. Lagipun, yang gw hadapi masih ABG. Masih belum bisa berpikir. Mungkin masih menyusui di rumahnya di negeri jiran yang selalu kita lindungi dari tsunami dan gempa laut.

Tapi yang pastinya, gw marah. Amat marah! Udah lama juga gw nggak marah begini. Marah karena gw dilecehkan. Kemarin itu marah sama adik gw juga tapi itu karena dia nggak bisa bedain bercanda dan serius.

*Haih* Semoga, esok bisa datang hari yang lebih indah dari sekarang. Semoga, esok sang mentari bisa mengukirkan senyum untukku. Semoga, esok bisa nggak usah marah lagi! Dan yang terakhir adalah yang terpenting.

Biarlah hari ini, gw menikmati apa yang harus gw nikmati. Sekarang, gw hanya ingin menenangkan diri.

This is the time I need you to stay with me here. To calm me down. To cool my head. To make me smiling 🙂

Hasta!

eldios©

Advertisements