Hari ini telah terjadi hal yang sangat mengejutkan. Mbah Surip meninggal dunia. Memang sih, meninggalnya seseorang itu menjadi hal yang biasa, tapi hal itu menjadi tidak biasa buat gw karena hal itu terjadi hanya satu hari setelah  gw baca-baca dan nonton tentang dia. Eh, belum satu hari deh, soalnya belum 24 jam. Hahaha.

Namun, selain daripada itu, gw merasa beruntung juga karena gw masih hidup pagi ini. Jadi gini ceritanya (baca: kenyataannya), tadi malam, waktu mau tidur gw melakukan rutinitas biasa, yaitu update status facebook. Nah, gw iseng. Gw isi begini: “ein.. (satu)  zwei.. (dua) drei.. (tiga) SLAPEN.. (tidur) jauh lebih dalam jauh lebih lelap dari sebelumnya.” Kata-kata itu sering gw dengar dari seseorang yg suka muncul di TV. Gw nggak suka nontonin dia karena berbagai pertimbangan dan sebab musabab, dan karena itu gw menggunakan kata-katanya itu just for laugh secara malam sebelumnya gw tidur nggak nyenyak. Terusnya, gw tidur.

Bangun pagi, hal rutinitas biasa juga yg gw lakukan. Lihat harga pertukaran kurs di kompas *sok businessman banget gw*. Nah pas gw baca website itu, ada berita dengan judul ini: “Presiden berduka karena Mbah Surip”. Walangkeke cublak cublak suweng. Gw langsung shock dan cari-cari berita tentunya. Semua mengkonfirmasi meninggalnya Mbah Surip. Namun, gw bersyukur, karena “jauh lebih dalam, jauh lebih lelap dari sebelumnya” yang gw sebutin semalam tidak membuatku lelap selamanya.

Mbah Surip is not dead. He is just sleeping forever. However, he has chosen the best time to sleep.

This story can only prove that we can never predict how much time we have left. Therefore, we need to do the best today just incase tomorrow never comes.

Sleep In Peace, Mbah Surip. All the best to you in your next journey.

Goedemorgen.

eldios©

Advertisements